April 08, 2014

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya,
berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup
lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-
marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah
dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan
cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan
pangan.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya
sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang
rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan
dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya
kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan
pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba
kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk
dan mengambilnya.
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,”
gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke
sebuah bank.
“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,”
kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran
si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si
kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang
akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati
sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu
sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk
istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya
tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah
membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut
dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat
mebel. Mata
pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul
lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal.
Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia
menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu
meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah
jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang
pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan
meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia
pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang
wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok
keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi
lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan
harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si
wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki
itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin
dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang
yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran
bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar
dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu,
lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati
suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja
kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-
apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus
tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
Kisah berikut, diadaptasi dari The Healing Stories karya GW
Burns.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © TCK Animation HD - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -