Archive for August 2014
Kesaksian Seorang Romo Mengusir Roh Jahat
2010, saya mendampingi rekoleksi OMK (Orang Muda
Katolik) Stasi Tambun paroki Bekasi di Cipanas. Dewan Stasi
dan Paroki turut mendampingi. Acara berlangsung dengan
baik dan inspiratif sampai malam hari. Setelah acara api
unggun, semua peserta dan penyelenggara bersiap untuk
tidur. Sayapun masuk ke kamar saya. Baru saja saya jatuh
tertidur, pintu kamar saya diketuk. Saudari Marta dan Anton
serta beberapa orang yang lain memberitahu saya, bahwa di
Cibulan di daerah bawah Cisarua, ada sekelompok Mahasiswa
KAJ dekenat Timur yang sedang rekoleksi, dan mereka
membutuhkan bantuan imam untuk menghadapi empat orang
mahasiswi yang sedang kesurupan. Satu orang di antara
mereka bahkan telah menghilang dan tidak ada di villa. Romo
pendamping sudah pulang dan tidak akan kembali lagi ke
sana.
Saya terhenyak. Pikiran saya langsung bekerja: jarak antara
Cipanas hingga Cibulan adalah sekitar 15 Km. Cukup jauh.
Menjelang pukul sebelas malam begini pula…. Namun hati
saya tergerak untuk menolong. Akhirnya saya memutuskan
untuk berangkat ke sana disertai oleh Martha dan Anton.
Sambil mengemudikan mobil, saya mengingat kembali
postingan bruder Yohanes dalam milist, apakah ciri-ciri orang
kerasukan setan dan perbedaannya dengan orang yang
mengalami stress berat/depresi. Lalu saya berpikir, ah,
jangan-jangan mereka hanya depresi saja. Biasanya
perempuanlah yang suka kesurupan, dan benar juga,
perempuanlah yang dikatakan kesurupan malam ini. Jujur
saja, sebenarnya saya termasuk golongan orang yang skeptis
dalam urusan semacam ini. Maksud saya datang hanyalah
sekedar menenangkan anak-anak itu saja. Kehadiran pastoral
sajalah, demikian pikir saya. Namun demikian, saya tetap
mencoba mengingat- ingat kembali teks itu. Kebetulan
handphone BB saya hang setelah tersiram air teh di gerbong
kereta api saat saya kembali dari Jogja ke Jakarta hari Jumat
dinihari kemarin. Karena itu, saya tidak dapat membuka
kembali teks dari milist itu. Saat itu saya tak punya pilihan
lain, selain berusaha mengingat- ingat sendiri saja, sambil
berbincang-bincang dengan Anton dan Martha.
terlentang dan tengkurap tidur. Mereka dipisahkan di tiga
tempat. ’Pasien’ yang hilang sudah ditemukan. Menurut
berita, ia kini berada di kamar atas. Dari keempat anak itu,
ada satu orang yang kata mereka paling kuat. Karena villa itu
tidak dikelola Gereja dan bukan tempat khusus retret, maka
reaksi spontan orang sekitar villa adalah memanggil orang
yang dianggap “pintar” di daerah tersebut. “Orang pintar” itu
sudah dipanggil sejak pukul tujuh malam tadi dan gagal, lalu
pulang. Kata “orang pintar” tersebut, jenis ini bukan yang dia
ketahui.
Setan Pun Mengakui Tuhan dalam Sakramen Mahakudus
Bagi kita, orang Katolik, percaya dengan sungguh bahwa
Yesus memang hadir dalam rupa Hosti dan Anggur. Banyak
sudah mujizat yang terjadi berkenaan dengan hal ini, antara
lain, Hosti dan Anggur benar berubah menjadi, masing-
masing, cukilan daging dan gumpalan darah segar. Dan itu
tidak rusak sampai saat ini meski sudah puluhan, ratusan,
atau bahkan, ribuan tahun umurnya.
Keledai lebih memilih menyembah Sakramen Mahakudus
ketimbang memakan rumput yang ada di sebelahnya.
Juga pernah kita dengar kisah St. Antonius Padua saat
berkhotbah di Toulose, Perancis. Kala itu, St. Antonius
membuat mujizat dengan menyuruh seekor keledai yang
kelaparan untuk berlutut di hadapan Sakramen Maha Kudus
seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam ke tanah. Sang
keledai yang sengaja tidak diberi makan selama tiga hari itu
sama sekali tidak menghiraukan jerami segar yang ada di
dekatnya.
Bahkan setan pun dipergunakan oleh-Nya untuk mengakui
kehadiran nyata Tuhan dalam Sakramen Maha Kudus ! Hal ini
terkuak ketika dilakukan proses eksorsisme terhadap Nicola
Aubrey, seorang wanita Katolik saleh yang dirasuki oleh
Beelzebul, sang penghulu setan (Mat 12:24, Luk 11:15),
beserta 29 setan pengikutnya atas seizin Tuhan sendiri.
Proses eksorsisme adalah proses pengusiran setan. Pihak
Gereja Katolik memiliki ritual khusus untuk proses ini. Tidak
semua imam Katolik diberi kuasa untuk melakukannya. Karena
itulah, sangat jarang kita dengar proses eksorsisme yang
dilakukan oleh Gereja Katolik. Namun beberapa di antaranya
telah dipublikasikan, bahkan ada yang dibuatkan film. Kasus
Anneliese Michel adalah salah satunya. Sayangnya gadis
muda belia yang berparas cantik itu harus kehilangan
nyawanya di dunia ini.
Nah kisah Nicola Aubrey ini beakhir happy ending. Kisahnya,
konon kabarnya, baru dibuka setelah wafatnya Sri Paus JP II.
Berikut petikan kisahnya. Maaf kalau kepanjangan.
Kebenarannya bisa ditanyakan ke mbah Google atau ke mas
Wikipedia.
Bila setan pun mengakui, meskipun dipaksa oleh kekuatan
Ilahi, masih adakah kita meragukan kehadiran nyata Tuhan
sendiri dalam rupa Hosti dan Anggur ? Namun juga jangan
sampai terjadi ‘main hakim sendiri’ bila ditemui kasus
pelecehan Sakramen Maha Kudus, sebagaimana yang pernah
saya dengar terjadi di Flores……
Eksorsisme Nicola Aubrey,
oleh Father Michael Müller, C.S.S.R.
(kisah nyata / true story / dokument Vatikan yang baru
dibuka )
Sungguh suatu kenyataan yang luar biasa bahwa,
sebagaimana setan menggunakan Martin Luther, seorang
rahib yang ingkar, demi merendahkan Misa Kudus dan
menyangkal Kehadiran Nyata, sedemikan pula Allah dapat
menggunakan kekuatan setan sebagai pembuktian
kehadiranNya yang nyata. Allah berulang kali secara terbuka
memaksa setan untuk menyatakan kepercayaannya tentang
kehadiranNya yang nyata, untuk mengacaukan para bidaah
akibat kesesatan mereka, dan menaklukkan dirinya (setan) di
hadapan Allah dalam rupa Sakramen Maha Kudus.
Untuk maksud inilah Allah telah mengijinkan seorang wanita
yang bernama Nicola Aubrey, seorang yang innocent/tak
bersalah menjadi dikuasai/dirasuki oleh Beelzebul dan 29
kekuatan jahat lainnya. Penguasaan ini terjadi 08 November
1565 dan berakhir hingga 08 Februari1566.
Orang tuanya membawa Nicola kepada Romo de Motta,
seorang Imam yang saleh di Vervins, agar beliau dapat
mengusir setan melalui eksorsisme sesuai Gereja Katholik.
Rm.de Motta telah mencoba beberapa kali mengusir kekuatan
jahat dengan menggunakan relikwi salib suci, namun tidak
berhasil; Setan tidak dapat diusir. Akhirnya, diinspirasikan oleh
Roh Kudus, beliau memutuskan untuk mengusir setan dengan
kehadiran Sakramen Tubuh dan Darah Kristus. Sementara
Nicola terbaring dalam keadaan mati suri, Rm. de Motta
meletakkan Sakramen Maha Kudus di bibir Nicola, dan
seketika daya kekuatan jahat dipatahkan; Nicola kembali
sadar dan dapat menerima komuni kudus dengan segenap
tanda devosi. Segera setelah Nicola dapat menerima Komuni
Kudus, wajahnya menjadi cerah dan cantik sebagaimana raut
wajah seorang malaikat, dan semua yang menyaksikannya
diliputi sukacita dan keheranan, dan mereka bersyukur memuji
Allah dari hati mereka yang terdalam.
Dengan seizin Allah, setan datang kembali dan merasuki
Nicola lagi.
Ketika keadaan penguasaan setan atas Nicola diketahui orang
banyak, beberapa orang pengkotbah Calvinis bersama
pengikutnya datang, untuk “menyingkap kebohongan Paus”,
kata mereka. Saat mereka masuk, setan memberi salam
sambil mengejek mereka, menyebut nama2 mereka dan
mengatakan bahwa mereka telah datang karena ketaatan
pada setan. Salah seorang pengkotbah membuka buku doa
Protestannya dan mulai membaca dengan wajah yang
sungguh khidmat. Setan mentertawakannya, dan menunjukkan
mimik muka seperti komik, setan berkata: “Ho ho! Teman-
teman baikku; apakah engkau ingin mengusir aku dengan
doa2 dan pujianmu? Apakah kamu pikir hal itu akan menyakiti
aku ? Tidak tahukah kamu bahwa doa pujian itu milikku ?
Akulah yang telah membantu untuk menggubahnya !”
“Aku akan mengusirmu dalam nama Tuhan,” kata pengkotbah
itu sungguh2.
“Kamu..!” kata setan, mengejek. “Kamu tidak akan mengusir
aku baik dalam nama Tuhan atau dalam nama setan. Apakah
kamu pernah mendengar ada setan yang satu mengusir setan
yang lain?”
“Aku bukan setan.” kata pengkotbah itu dengan marah, “Aku
adalah pelayan Kristus”.
“Seorang pelayan Kristus, tentu saja!” kata setan sambil
menyeringai. “Tahukah kamu! Kukatakan padamu bahwa
kamu lebih buruk daripada aku. Aku percaya, sedangkan kamu
tidak mau percaya. Apakah kamu mengira bahwa kamu dapat
mengusir aku dari tubuh orang sialan ini? Ha! Pergilah dulu
dan usir setan2 dari dalam hatimu sendiri !”
Pengkotbah itu hendak pergi, ia merasa tidak senang. Ketika
berjalan keluar, ia berkata seraya menatap ke atas, “Oo Tuhan,
aku berdoa padaMu, tolonglah anakmu yang malang ini!”
“Dan aku berdoa, Lucifer,” teriak setan, “agar pengkotbah ini
tidak akan pernah meninggalkanmu (Lucifer), tetapi semoga ia
tetap memujamu dengan segenap kekuatannya, seperti yang
dilakukannya saat ini. Pengkotbah, pergilah selesaikan
tugas2mu sekarang. Kalian semua milikku, dan akulah
tuanmu”.
Saat Romo de Motta tiba, beberapa orang Protestan segera
pergi – mereka telah melihat dan mendengar lebih dari yang
mereka inginkan. Yang lainnya, bagaimanapun, tetap tinggal;
dan amatlah dahsyat terror yang mereka terima ketika mereka
melihat bagaimana setan menggeliat dan berteriak dalam
kengerian, ketika Sakramen Maha Kudus dibawa dekat pada
setan. Akhirnya kekuatan jahat itu pergi, meninggalkan Nicola
dalam keadaan tak sadar.
Sementara Nicola dalam keadaan ini, beberapa pengkotbah
mencoba membuka mata Nicola, namun mereka tak dapat
melakukannya. Romo kemudian meletakkan Sakramen Maha
Kudus di bibir Nicola; dan seketika ia kembali sadar.
Romo de Motta kemudian berpaling kepada para pengkotbah
yang keheranan, dan berkata: “Pergilah sekarang, kalian para
pengkotbah Injil baru; pergilah dan kabarkan kemana saja apa
yang telah kalian lihat dan dengar. Janganlah lagi
menyangkali bahwa Tuhan kita Yesus Kristus sungguh2 ada
dan nyata hadir dalam Sakramen Mahakudus di altar. Pergilah
sekarang, dan jangan membiarkan wibawa hormat manusia
menghalang-halangimu dari menyatakan kebenaran”.
Selama beberapa hari eksorsisme berikutnya, setan dipaksa
untuk mengakui bahwa ia memang tidak diusir di Vervins, dan
bahwa ia membawa bersamanya 29 setan2 lain diantaranya 3
iblis yang berkuasa : Cerberus, Astaroth dan Legio.
Pada hari ke 3 di bulan Januari tahun 1556, bapa Uskup tiba
di Vervins, dan memulai eksorsisme di Gereja, di tengah
kehadiran umat yang amat banyak.
“Saya perintahkan engkau, dalam nama dan kekuatan dari
kehadiran nyata Tuhan kami dalam Sakramen Maha Kudus,
untuk segera enyah.” demikian kata bapa Uskup kepada setan
dalam suaran yang khidmat.
Setan akhirnya diusir, untuk kedua kalinya berkat kehadiran
Sakramen Ekaristi. Saat pergi, setan melumpuhkan tangan kiri
dan kaki kanan Nicola, dan juga membuat tangan kirinya lebih
panjang dari tangan kanan; dan tidak ada kekuatan di bumi
yang dapat menyembuhkan keadaan yang aneh ini, hingga
beberapa minggu kemudian ketika setan akirnya telah
dienyahkan dengan sempurna dan tidak dapat kembali lagi.
Nicola kemudian dibawa ke perayaan peziarahan Bunda Maria
dari Liesse, khususnya karena setan sepertinya amat takut
terhadap tempat itu.
Hari berikutnya Rm. de Motta memulai eksorsisme di Gereja
Bunda Maria dari Liesse, di tengah kehadiran umat yang
besar.
Romo memegang Sakramen MahaKudus dalam tangannya dan
menunjukkanNya pada iblis, sambil berkata “Aku perintahkan
engkau, dalam nama Tuhan yang hidup, Emmanuel yang
Agung yang hadir di sini, dan yang di dalamNya engkau
percaya”.
“Ah, ya!” kata setan, “Aku percaya padaNya,” dan setan
berteriak kesakitan lagi ketika mengatakan pengakuannya,
karena ia disiksa oleh kekuatan Ilahi.
“Aku perintahkan engkau, oleh karena NamaNya.” kata Imam.
“untuk meninggalkan tubuh ini segera”
Dengan kata2 ini, dan khususnya dengan kehadiran Sakramen
Ekaristi, setan menderita siksaan hebat yang sangat
menakutkan. Suatu saat tubuh Nicola berputar menggelinding
seperti bola, lalu kembali tubuhnya membengkak sangat
menakutkan.
Suatu ketika wajahnya memanjang dengan aneh, lalu melebar
sekali dan terkadang berwarna merah padam dan terkadang
berbintik-bintik seperti katak.
Imam masih meneruskan untuk mendesak dan menyiksa
setan. “Roh yang terkutuk” teriaknya, “Aku perintahkan
engkau, dalam Nama dan oleh kehadiran nyata dari Tuhan
kita Yesus Kristus di sini dalam Sakramen Maha Kudus, untuk
segera enyah dari tubuh makhluk yang malang ini”.
“Ah ya!” jerit setan, melengking liar, “26 dari teman-temanku
akan segera pergi saat ini, karena mereka dipaksa berbuat
demikian”.
Umat yang hadir kini mulai berdoa dengan penuh semangat.
Tiba2 anggota badan Nicola mulai retak, seperti tulang2
dalam tubuhnya mulai patah, semacam wabah asap/uap
keluar dari mulutnya, dan 26 roh jahat meninggalkan tubuh
Nicola, tidak pernah kembali lagi.
Lalu Nicola jatuh pingsan, dimana ia hanya dapat disadarkan
dengan Sakramen Maha Kudus. Ketika dipulihkan dan
menerima sakramen Ekaristi, raut wajah Nicola bercahaya
seperti wajah seorang malaikat.
Imam masih meneruskan mendesak setan, dan menggunakan
semua harta pusaka gereja untuk mengusirnya.
“Aku tidak akan pergi, kecuali diperintahkan oleh Uskup dari
Leon” kata setan dengan marah.
Lalu Nicola dibawa ke Pierrepont, dimana satu iblis bernama
Legio, diusir oleh kehadiran Sakramen Maha Kudus.
Pagi hari berikutnya Nicola dibawa ke Gereja. Dengan
menakutkan ia dibawa keluar rumah, ketika setan merasukinya
lagi.
Uskup yang diminta untuk pengusiran dalam Nicola,
mempersiapkan dirinya untuk tugas yang berat ini dengan
berdoa dan berpuasa, dan mengerjakan perbuatan2 silih
lainnya.
Saat kedatangan Nicola di Gereja, eksorsisme dimulai. “Berapa
diantaramu yang ada dalam tubuh ini?” tanya bapa Uskup.
“Kami bertiga” jawab roh jahat itu.
“Apa nama2 kalian?”
“Beelzebub, Cerberus, dan Astaroth.”
“Apa yang terjadi pada yang lainnya? tanya bapa Uskup.
“Mereka sudah dienyahkan” jawab setan.
“Siapa yang mengusir mereka?”
“Ha!” teriak setan, menggertakkan giginya. “itulah Dia yang
engkau pegang dalam tanganmu, di sana dalam Patena”.
Setan menunjuk Tuhan kita dalam Sakramen Maha Kudus.
Bapa Uskup lalu memegang Sakramen Maha Kudus ke dekat
wajah Nicola. Setan menggeliat dan berteriak penuh
kengerian. “Ah. ya! Aku akan pergi, aku akan pergi!” ia
memekik tertawa, “tetapi aku akan kembali”.
Segera tubuh Nicola menjadi kaku dan tak bergerak seperti
batu marmer. Bapa Uskup lalu menyentuhkan bibirnya dengan
Sakramen Maha Kudus dan detik itu juga ia segera sadar
sepenuhnya. Nicola menerima Komuni Kudus dan air mukanya
sekarang bercahaya memancarkan kecantikan Ilahi.
Hari berikutnya Nicola dibawa kembali ke Gereja, dan
eksorsisme dimulai lagi seperti biasa.
Bapa Uskup memegang Sakramen Ekaristi dalam tangannya,
mendekatkan pada wajah Nicola dan berkata:
“Aku perintahkan engkau dalam nama Allah yang hidup, dan
dengan kehadiran Yesus Kristus Tuhan kita yang nyata di sini
dalam Sakramen di altar, agar engkau segera enyah dari tubuh
ciptaan Tuhan ini dan tak pernah kembali”.
“Tidak, tidak” teriak setan, “Aku tidak akan pergi. Waktuku
belum tiba”.
“Aku perintahkan engkau untuk pergi, enyahlah, roh tercela,
terkutuk! Pergilah!” dan bapa Uskup memegang Sakramen
Maha Kudus dekat wajah Nicola.
“Stop, stop!” jerit setan; “biarkan aku pergi! Aku akan pergi –
tetapi aku akan kembali”. Segera Nicola terjatuh dengan tawa
yang mengerikan. Suatu asap hitam keluar dari mulutnya dan
ia jatuh pingsan lagi.
Selama Nicola tinggal di Leon, ia dengan hati-hati dipelajari
oleh para psikiater Katolik dan Protestan. Tangan kirinya, yang
telah dilumpuhkan oleh setan, didapati mati rasa. Para dokter
menggores lengannya dengan pisau tajam, membakar dengan
api, menusuk dengan jarum dan paku pada jari2 tangannya,
tetapi Nicola tidak merasa sakit; tangannya telah mati rasa.
Suatu ketika Nicola sedang berbaring dalam keadaan mati
suri, para dokter memberinya semacam roti yang dicelupkan
ke dalam anggur (seperti yang disebut kaum Protestan
sebagai komuni mereka atau Perjamuan Kudus), mereka
menyeka bibrnya dengan kasar, meeka memercikkan air pada
wajahnya, mereka menusuk lidahnya hingga darah keluar;
mereka mencoba segala cara untuk membagunkan Nicola,
namun sia-sia!
Tubuh Nicola tetap diam dan tak bergerak seperti patung
marmer. Akhirnya Imam menyentuhkan Sakramen Maha
Kudus ke bibir Nicola dan seketika ia kembali sadar
sepenuhnya dan mulai memuji Tuhan.
Mukjizat ini sangat jelas, sangat gamblang, hingga seorang
dokter yang tadinya Calvinis fanatik, segera memperbaiki
kesalahannya, dan menjadi Katholik.
Beberapa kali, juga kaum Protestan menyentuhkan hosti yang
belum dikonsekrasi ke wajah Nicola, yang mana
konsekwensinya adalah hanya roti, tidak berpengaruh
sedikitpun bagi setan, malah ia melecehkan usaha mereka.
Pada tanggal 27 Januari, bapa Uskup, setelah berjalan dalam
prosesi yang hikmat dengan para rahib dan umat, memulai
exorsisme di Gereja, dengan kehadiran banyak jemaat
Protestan dan Katolik.
Bapa Uskup sekarang memegang Sakramen Maha Kudus
dekat ke wajah Nicola. Tiba-tiba suatu teriakan yang liar dan
aneh terdengar nyaring di udara – suatu asap hitam pekat
keluar dari mulut Nicola. Setan Astaroth telah dienyahkan
selamanya.
Selama eksorsisme yang berlangsung tanggal 1 Februari, bapa
Uskup mengatakan:
“Oh roh yang terkutuk! Oleh karena bukan doa, atau Injil Suci
ataupun eksorsisme oleh Gereja, atau relikwi suci, dapat
memaksamu untuk pergi, saya sekarang akan menunjukkan
padamu Tuhan dan Junjungan kami, dan dengan kuasaNya
saya perintahkan engkau”
Selama eksorsisme yang dilangsungkan setelah Misa, bapa
Uskup memegang Sakramen Maha Kudus dalam tangannya
dan berkata : “Oh roh yang terkutuk, musuh besar dari Allah
yang maha Kuasa! Aku perintahkan engkau, oleh Darah Yesus
Kristus yang Maha Mulia hadir di sini, agar enyah dari wanita
malang ini! Enyahlah hai terkutuk ke dalam api neraka yang
kekal!”
Saat kata2 ini diucapkan, dan khususnya dengan kehadiran
Sakramen Maha Kudus, setan menjadi sangat takut dan
kesakitan dan penampilan Nicola menjadi seram dan
memberontak, hingga orang2 memalingkan mata mereka
penuh ketakutan. Akhirnya suatu keluhan berat terdengar, dan
sutau awan dari asap hitam keluar dari mulut Nicola, Cerberus
telah dienyahkan.
Lalu Nicola jatuh lagi dalam mati suri dan ia dapat disadarkan
kembali hanya oleh kehadiran Sakramen Ekaristi.
Selama eksorsisme, yang berlangsung di hari ketujuh bulan
Februari, Uskup mengatakan pada setan:
“Katakan padaku, mengapa engkau merasuki tubuh wanita
Katolik yang jujur dan berbudi luhur ini ?”
“Aku melakukannya atas izin Allah. Aku telah dapat
menguasai dia akibat dosa-dosa banyak orang. Aku
melakukannya untuk menunjukkan kepada para pengikut
Calvinis ku bahwa mereka adalah roh jahat yang dapat
mengambil kuasa atas manusia jika Allah mengizinkannya.
Aku tahu mereka tak ingin mempercayai ini; namun aku akan
menunjukkan kepada mereka bahwa akulah roh jahat. Aku
telah merasuki makhluk ini agar mereka bertobat, atau agar
makin mengeraskan hati mereka dalam dosa2 mereka; dan
melalui kurban berdarah, akau akan melakukan karya-
karyaku”.
Jawaban ini menakutkan hati tiap orang yang mendengarnya
dengan horor. “Ya”, jawab bapa Uskup dengan khidmat, “Allah
menginginkan persatuan setiap orang hanya dalam iman yang
kudus. Karena hanya ada satu Allah, maka hanya ada satu
agama yang benar. Agama seperti yang telah diciptakan kaum
protestan hanyalah suatu olok-olok yang palsu. Ajaran ini
pasti hancur. Agama yang didirikan oleh Tuhan kita Yesus
Kristus adalah satu-satunya yang sejati; hanya itu yang akan
bertahan sampai kekal. Agama ini dimaksudkan untuk
persatuan semua umat manusia dalam rangkulan
pengorbanannya, agar hanya ada satu kawanan dengan satu
gembala. Gembala Ilahi inilah Tuhan kita Yesus Kristus, yakni
kepala yang tak nampak dari Gereja Katolik yang Kudus. yang
pemimpin nyatanya adalah Bapa Suci – Paus penerus
St.Petrus”.
Setan berdiam diri – dia dipermalukan di hadapan orang
banyak. Setan sekali lagi dienyahkan oleh kehadiran Sakramen
Maha Kudus.
Pada sore harinya, setan mulai menangis: “Ah! Ha! Kalian
pikir bahwa kalian dapat mengusir aku dengan cara ini. Kalian
tidak memiliki prosedur kehadiran Uskup yang benar. Di
manakah para diakon dan prodiakon? Di manakah para hakim
agung? Di mana kepala hakim, yang telah ketakutan karena
ucapannya malam itu, di penjara ? Di manakah para penagih
kerajaan ? Di mana para pengacara dan penasihat ? Di mana
juru tulis pengadilan ? (Setan menyebutkan nama mereka
masing-masing) “Aku tidak akan pergi sampai mereka semua
hadir. Jika aku harus pergi sekarang, apa bukti yang dapat
kalian berikan pada raja atas segala sesuatu yang telah
terjadi? Kalian pikir orang akan mempercayaimu demikian
saja? Tidak, tidak! Akan banyak yang mengajukan keberatan-
pengakuan. Pengakuan dan kesaksian dari orang2 & penduduk
setempat bobotnya rendah. Adalah penyiksaan bagiku bahwa
aku harus memberitahu padamu apa yang harus kalian
lakukan. Aku dipaksa untuk melakukannya. Ha! Terkutuklah
jam disaat pertama aku menguasai orang sial ini”.
“Aku menemukan sedikit kesenangan dari ocehanmu,” jawab
bapa Uskup; “Ada cukup banyak saksi di sini. Mereka yang
kau sebutkan tidaklah dibutuhkan.
Enyah! lalu berikan kemuliaan bagi Tuhan. Pergilah – ke
dalam kobaran api neraka!”
“Ya, aku akan pergi, namun tidak hari ini. Aku tahu pasti aku
harus pergi. Kalimatku telah berlalu; aku dipaksa untuk pergi”
“Aku tidak perduli pada ocehanmu”, kata bapa Uskup, “Aku
dapat mengusirmu dengan kuasa dari Allah; dengan darah
yang Maha Mulia dari Tuhan kita Yesus Kristus”.
“Ya, aku harus taat padamu”, teriak setan dengan liar.
“Sangat menyakitkan bagiku untuk memberi padamu hormat
ini”.
Bapa Uskup sekarang mengangkat Sakramen Maha Kudus
dalam tangannya, dan memegangnya dekat dengan wajah
Nicola.
Akhirnya setan dipaksa untuk pergi sekali lagi.
Pagi berikutnya, setelah prosesi selesai, Kurban Misa Kudus
dirayakan seperti biasanya.
Selama konsekrasi, Nicola diangkat ke udara setinggi 6 kaki
(sekitar 180 cm) sebanyak 2-kali, dan dijatuhkan dengan
keras ke lantai. Saat Uskup, sejenak sebelum Bapa Kami,
mengambil Hosti sekali lagi dalam tangannya dan mengangkat
hosti beserta piala, Nicole diangkat lagi ke udara, dengan 15
orang pria yang menahannya setinggi 6 kaki, dan setelah
beberapa waktu ia jatuh dengan keras ke lantai.
Pada saat ini, semua yang hadir dipenuhi teror yang
mengerikan. Seorang Jerman Protestan bernama Voske jatuh
berlutut, berlinang air mata; iapun bertobat.
“Ah!” kata Voske. “Aku sekarang percaya penuh bahwa setan
sungguh dapat menguasai makhluk yang malang. Aku percaya
bahwa sungguh2 hanyalah Tubuh dan Darah Kristus yang
dapat mengusir setan. Aku sungguh percaya. Aku tidak akan
lagi menjadi Prostestan”.
Selesai Misa, eksorsisme dimulai seperti biasanya.
“Sekarang, akhirnya,” kata bapa Uskup, “engkau harus pergi.
Pergilah, roh jahat!”
“Ya,” kata setan, “benar bahwa aku harus pergi, tapi belum
saatnya. Aku tidak akan pergi sebelum waktunya sejak aku
menguasai orang celaka ini”
Akhirnya Uskup mengambil Hosti Kudus dalam tangannya dan
berkata: “Dalam nama Allah Tritunggal termulia: Bapa, Putera
dan Roh Kudus – dalam nama Tubuh Kritus yang hadir di sini
– aku perintahkan engkau, roh jahat, enyahlah”.
“Ya, ya, itu benar!” teriak setan dengan liar: “benarlah, Itu
adalah Tubuh dan Darah Kristus. Aku harus mengakuinya,
karena aku dipaksa untuk melakukannya. Ha! Sangat
menyakitkan bagiku untuk mengakuinya, tapi aku harus. Aku
mengatakan yang benar hanya jika aku dipaksa
melakukannya. Kebenaran bukan dari aku. Kebenaran datang
dari Allah Tuhanku dan Majikanku. Aku telah dapat merasuki
tubuh ini atas seijinNya.
Bapa Uskup sekarang memegang Hosti Kudus dalam
tangannya dekat ke wajah Nicola. Setan menggeliat dalam
kesakitan yang mengerikan. Ia berusaha dengan segala cara
untuk menghindari kehadiran Tuhan Yesus dalam Sakramen
Maha Kudus. Akhirnya suatu asap hitam yang panjang keluar
dari mulut Nicola. Iapun jatuh tak sadarkan diri dan sekali lagi
dapat disadarkan hanya dengan kehadiran Sakramen maha
Kudus.
Pada tanggal 8 Feb., hari yang ditetapkan Allah dimana setan
harus meninggalkan Nicola selama-lamanya, akhirnya tiba.
Setelah prosesi yang hikmat, bapa Uskup memulai eksorsisme
yang terakhir.
“Aku tidak akan bertanya lagi kepadamu,” kata bapa Uskup
pada setan, “ketika engkau berniat pergi; aku akan memaksa
mu keluar segera dengan kuasa dari Allah yang hidup dan
tubuh dan darah termulia Yesus Kristus, Putera terkasihNya,
disini hadir dalam Sakramen di Altar”.
“Ha! Ya”, jerit setan: “Aku mengakui bahwa Putera Allah
sungguh hadir di sini. Ia adalah Tuhan dan Majikanku. Sangat
menyiksa bagiku untuk mengakuinya, namun aku dipaksa
untuk melakukan ini.” Lalu setan mengulanginya beberapa
kali, dengan teriakan yang nyaring dan aneh: “Ya benar, aku
harus mengakuinya. Aku dipaksa untuk keluar, oleh kuasa
Tubuh Kristus yang hadir di sini. Aku harus – aku harus pergi.
Aku sangat tersiksa karena harus pergi demikian cepat, dan
aku harus mengakui kebenaran ini. Tetapi kebenaran ini bukan
dari aku; kebenaran ini datang dari Tuhanku dan Majikanku,
yang telah mengirim aku kemari, dan yang telah
memerintahkan dan memaksa aku untuk memberi kesaksian
akan kebenaran ini di depan khalayak.”
Bapa Uskup lalu mengambil Sakramen Maha Kudus dalam
tangannya dan meninggikanNya lalu berkata dengan khidmat:
“O engkau yang jahat, roh yang tercemar, Beelzebub ! Engkau
musuh besar Allah yang kekal! Perhatikanlah, hadir di sini,
Tubuh dan Darah dari Tuhan kita Yesus Kristus, Tuhan dan
Junjungan kita. Aku mendesakmu, dalam nama dan kuasa
dari Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus, sungguh Allah
sungguh manusia, yang hadir di sini; aku perintahkan engkau
segera pergi untuk selama-lamanya dari ciptaan Allah ini.
Pergilah ke tempat terdalam dari neraka, disana untuk tersiksa
selama-lamanya. Pergilah, roh yang tercemar, pergilah –
perhatikan di sini Tuhan dan Allahmu !”.
Melalui kata2 khidmat ini, dan di depan Sakramen Kudus
Allah, tubuh wanita malang yang dirasuki itu menggeliat
ketakutan. Anggota2 tubuhnya retak seolah tiap2 tulangnya
patah. Kelima belas pria dewasa yang kuat menahannya
dengan susah payah. Mereka terhuyung-huyung dari satu sisi
ke sisi yang lain, sehingga mereka bersimbah peluh. Setan
mencoba menghindat dari kehadiran Tuhan Allah dalam
Sakramen Maha Kudus. Mulut Nicola terbuka lebar, lidahnya
menjulur panjang melewati dagunya, wajahnya membengkak
dan rautnya menyimpang aneh sangat menakutkan.
Warna tubuhnya berubah-ubahnya dari kuning menjadi hijau,
dan malah menjadi abu-abu atau biru, sehingga ia tidak lagi
nampak serupa seorang manusia; ia lebih nampak sebagai
inkarnasi setan yang mengerikan. Seluruh yang hadir tercekam
dalam teror, khususnya ketika mereka mendengar jerit tangis
setan yang menakutkan, terdengar seperti raungan nyaring
seekor kerbau liar.
Merekapun jatuh berlutut, berlinang air mata, menangis:
“Yesus, kasihanilah kami!”
Bapa Uskup terus mendesak setan. Akhirnya roh jahat itu
pergi dan Nicola terjatuh tak sadarkan diri ke tangan para
penahannya. Dia masih shock dan trauma. Saat itu dalam
kondisi demikian ia dipertunjukkan kepada para hakim, dan
kepada segenap yang hadir, ia telah berputar menggelinding
seperti bola.
Bapa Uskup pun berlutut untuk memberikan Sakramen Maha
Kudus, seperti biasanya. Namun lihat! Tiba2 setan itu kembali,
dengan amarah yang liar, berusaha membekukan tangan
Uskup dan malah mencoba merebut Sakramen itu. Bapa
Uskup berusaha mengelak; Nicola terangkat ke udara dan
Uskup bangkit berdiri, terkejut dan tergetar oleh teror hingga
pucat pasi.
Namun Uskup yang baik itu mengumpulkan segenap
keberaniannya; ia mengejar si setan, memegang Sakramen
Maha Kudus dalam tangannya, sampai suatu jarak dengan
setan, maka diliputi kuasa Tubuh Kristus Tuhan kita, keluarlah
dari mulut Nicola asap pekat dan kilat menyambar disertai
guntur.
Sejurus kemudian, setan telah dipaksa enyah selama-
lamanya, pada Jum’at sore itu tepat jam tiga, pada hari dan
jam yang sama ketika Kristus Tuhan kita mengalahkan
kekuasaan neraka oleh KematianNya yang menyelamatkan.
Nicola sekarang telah dipulihkan dengan sempurna, ia dapat
menggerakkan tangan kirinya dengan mudah. Ia jatuh
berlutut, bersyukur dan memuji Allah, dan berterimakasih
kepada bapa Uskup atas segala yang telah diberikannya
kepada Nicola.
Para umat yang hadir menangis dalam sukacita dan
menyanyikan kidung pujian dan syukur dalam hormat kepada
Allah dalam Sakaramen Maha Kudus.
Di segenap penjuru kota terdengar teriakan: “Oh, mukjizat
yang luar biasa! Oh, terimakasih dan syukur pada Tuhan,
bahwa aku menyaksikannya! Siapakah yang sekarang dapat
meragukan kehadiran Tuhan kita Yesus Kristus yang nyata
dalam Sakramen di Altar yang kudus!”
Banyak orang Protestan juga berkata: “Sekarang aku percaya
pada kehadiran Kristus Tuhan kita dalam Sakramen Maha
Kudus; aku telah menyaksikannya dengan mataku sendiri! Aku
tak akan menjadi Calvinis lagi. Terkutuklah mereka yang telah
menyesatkan aku! Oh, sekarang aku dapat mengerti kemuliaan
dalam Kurban Misa yang Kudus!”
“Te Deum” yang khidmat dinyanyikan; meriah suara organ
bergemuruh, dan lonceng Gereja bersahutan dibunyikan, genta
kegembiraan.
Segenap penduduk kota diliputi damai dan sukacita.
Kemenangan besar Yesus Kristus dalam Sakramen Maha
Kudus atas setan ini, terjadi di hadapan lebih dari 150.000
orang, dihadiri semua pejabat Gereja dan pemerintahan di kota
itu, umat Protestan dan Katolik bersatu. Saya sudah
menerbitkan suatu buku dari peristiwa luar biasa ini berjudul
“Triumph of the Blessed Sacrament“. Kenyataan ini telah
dibukti-nyatakan oleh berbagai pihak dan diterbitkan dalam
beragam bahasa – Perancis, Italia, Spanyol dan Jerman.