- Back to Home »
- Kesaksian Seorang Romo Mengusir Roh Jahat
August 20, 2014
Kisahnya demikian: Pada hari Sabtu, tanggal 27 November
2010, saya mendampingi rekoleksi OMK (Orang Muda
Katolik) Stasi Tambun paroki Bekasi di Cipanas. Dewan Stasi
dan Paroki turut mendampingi. Acara berlangsung dengan
baik dan inspiratif sampai malam hari. Setelah acara api
unggun, semua peserta dan penyelenggara bersiap untuk
tidur. Sayapun masuk ke kamar saya. Baru saja saya jatuh
tertidur, pintu kamar saya diketuk. Saudari Marta dan Anton
serta beberapa orang yang lain memberitahu saya, bahwa di
Cibulan di daerah bawah Cisarua, ada sekelompok Mahasiswa
KAJ dekenat Timur yang sedang rekoleksi, dan mereka
membutuhkan bantuan imam untuk menghadapi empat orang
mahasiswi yang sedang kesurupan. Satu orang di antara
mereka bahkan telah menghilang dan tidak ada di villa. Romo
pendamping sudah pulang dan tidak akan kembali lagi ke
sana.
Saya terhenyak. Pikiran saya langsung bekerja: jarak antara
Cipanas hingga Cibulan adalah sekitar 15 Km. Cukup jauh.
Menjelang pukul sebelas malam begini pula…. Namun hati
saya tergerak untuk menolong. Akhirnya saya memutuskan
untuk berangkat ke sana disertai oleh Martha dan Anton.
Sambil mengemudikan mobil, saya mengingat kembali
postingan bruder Yohanes dalam milist, apakah ciri-ciri orang
kerasukan setan dan perbedaannya dengan orang yang
mengalami stress berat/depresi. Lalu saya berpikir, ah,
jangan-jangan mereka hanya depresi saja. Biasanya
perempuanlah yang suka kesurupan, dan benar juga,
perempuanlah yang dikatakan kesurupan malam ini. Jujur
saja, sebenarnya saya termasuk golongan orang yang skeptis
dalam urusan semacam ini. Maksud saya datang hanyalah
sekedar menenangkan anak-anak itu saja. Kehadiran pastoral
sajalah, demikian pikir saya. Namun demikian, saya tetap
mencoba mengingat- ingat kembali teks itu. Kebetulan
handphone BB saya hang setelah tersiram air teh di gerbong
kereta api saat saya kembali dari Jogja ke Jakarta hari Jumat
dinihari kemarin. Karena itu, saya tidak dapat membuka
kembali teks dari milist itu. Saat itu saya tak punya pilihan
lain, selain berusaha mengingat- ingat sendiri saja, sambil
berbincang-bincang dengan Anton dan Martha.
2010, saya mendampingi rekoleksi OMK (Orang Muda
Katolik) Stasi Tambun paroki Bekasi di Cipanas. Dewan Stasi
dan Paroki turut mendampingi. Acara berlangsung dengan
baik dan inspiratif sampai malam hari. Setelah acara api
unggun, semua peserta dan penyelenggara bersiap untuk
tidur. Sayapun masuk ke kamar saya. Baru saja saya jatuh
tertidur, pintu kamar saya diketuk. Saudari Marta dan Anton
serta beberapa orang yang lain memberitahu saya, bahwa di
Cibulan di daerah bawah Cisarua, ada sekelompok Mahasiswa
KAJ dekenat Timur yang sedang rekoleksi, dan mereka
membutuhkan bantuan imam untuk menghadapi empat orang
mahasiswi yang sedang kesurupan. Satu orang di antara
mereka bahkan telah menghilang dan tidak ada di villa. Romo
pendamping sudah pulang dan tidak akan kembali lagi ke
sana.
Saya terhenyak. Pikiran saya langsung bekerja: jarak antara
Cipanas hingga Cibulan adalah sekitar 15 Km. Cukup jauh.
Menjelang pukul sebelas malam begini pula…. Namun hati
saya tergerak untuk menolong. Akhirnya saya memutuskan
untuk berangkat ke sana disertai oleh Martha dan Anton.
Sambil mengemudikan mobil, saya mengingat kembali
postingan bruder Yohanes dalam milist, apakah ciri-ciri orang
kerasukan setan dan perbedaannya dengan orang yang
mengalami stress berat/depresi. Lalu saya berpikir, ah,
jangan-jangan mereka hanya depresi saja. Biasanya
perempuanlah yang suka kesurupan, dan benar juga,
perempuanlah yang dikatakan kesurupan malam ini. Jujur
saja, sebenarnya saya termasuk golongan orang yang skeptis
dalam urusan semacam ini. Maksud saya datang hanyalah
sekedar menenangkan anak-anak itu saja. Kehadiran pastoral
sajalah, demikian pikir saya. Namun demikian, saya tetap
mencoba mengingat- ingat kembali teks itu. Kebetulan
handphone BB saya hang setelah tersiram air teh di gerbong
kereta api saat saya kembali dari Jogja ke Jakarta hari Jumat
dinihari kemarin. Karena itu, saya tidak dapat membuka
kembali teks dari milist itu. Saat itu saya tak punya pilihan
lain, selain berusaha mengingat- ingat sendiri saja, sambil
berbincang-bincang dengan Anton dan Martha.
Sesampainya kami di villa tua itu, terlihat para “pasien” sudah
terlentang dan tengkurap tidur. Mereka dipisahkan di tiga
tempat. ’Pasien’ yang hilang sudah ditemukan. Menurut
berita, ia kini berada di kamar atas. Dari keempat anak itu,
ada satu orang yang kata mereka paling kuat. Karena villa itu
tidak dikelola Gereja dan bukan tempat khusus retret, maka
reaksi spontan orang sekitar villa adalah memanggil orang
yang dianggap “pintar” di daerah tersebut. “Orang pintar” itu
sudah dipanggil sejak pukul tujuh malam tadi dan gagal, lalu
pulang. Kata “orang pintar” tersebut, jenis ini bukan yang dia
ketahui.
terlentang dan tengkurap tidur. Mereka dipisahkan di tiga
tempat. ’Pasien’ yang hilang sudah ditemukan. Menurut
berita, ia kini berada di kamar atas. Dari keempat anak itu,
ada satu orang yang kata mereka paling kuat. Karena villa itu
tidak dikelola Gereja dan bukan tempat khusus retret, maka
reaksi spontan orang sekitar villa adalah memanggil orang
yang dianggap “pintar” di daerah tersebut. “Orang pintar” itu
sudah dipanggil sejak pukul tujuh malam tadi dan gagal, lalu
pulang. Kata “orang pintar” tersebut, jenis ini bukan yang dia
ketahui.
dekat dengan daerah tersebut. Namun kata mereka, orang
tersebut juga menyatakan tak sanggup pula, lalu pulang.
Terlihat para mahasiswa masih menggenggam rosario dan
berdoa bersama. Ada salib besi tergeletak di sofa. Pasien
terparah itu adalah seorang perempuan berperawakan kecil
saja. Ia tergolek tengkurap di sofa, ditunggui oleh teman-
temannya. ”Ia sudah tidur”, demikian kata mereka. Karena
kondisi sudah tenang, saya spontan memutuskan: ”Ya sudah
saya kembali saja, kan anaknya sudah tidur… ” Tetapi
beberapa mahasiswa meminta saya melihat dulu kondisi
gadis yang terparah itu. Kata mereka, tadi dia kuat sekali.
Delapan orang mahasiswa lelaki yang kuat pun dia
hempaskan. Rosario yang mereka kalungkan di lehernya ia
putuskan, dan ia lemparkan ke halaman. Anehnya, rosario itu
kemudian mereka temukan berada di WC villa. Salib besi itu
juga telah ia ludahi. Kata mereka, suaranya pun berubah
seperti bukan suara gadis itu. Hhmm … Masih dengan agak
skeptis, saya mendekatinya.
Terlihat badan gadis itu tengkurap, mata terpejam separuh.
Dari situ terlihat manik matanya…. melihat ke arah mata
saya… Aneh… Saya agak tersinggung. Lha kok dia melirik ke
saya terus. Kepalan tangannya menggenggam erat. Saya
duduk di sofa yang sama, dekat punggungnya. Ia mengais
punggung bawah sambil keluar bunyi desis dari mulutnya,
sampai bajunya terlihat sobek sedikit. Desisnya berbunyi
”panasss” …..Lalu, saya nekad… Saya pegang tangannya. Ia
memberontak. Saya buka genggaman tangannya, dia melawan
dengan sebaliknya. Posisinya masih menelungkup. Saya ingat
postingan teks dari bruder Yohanes. Ciri kerasukan setan yang
membedakannya dari depresi antara lain adalah, jika disebut
nama Malaikat Agung Santo Mikael, atau nama Para Kudus,
juga Bunda Maria dan Tuhan Yesus Kristus, maka ia tentu
akan bereaksi dengan keras. Agak skeptis, namun tetap
dengan memegang erat jari-jari kaku yang mencekam dari
anak itu, saya katakan dengan suara wajar namun jelas
terdengar, ”Keluarlah dari badan anak ini! Dalam nama Yesus
Kristus Tuhanmu, serta Malaikat Agung Santo Mikael yang
kepadanya kamu membangkang, keluarlah”.
Namun reaksi anak itu begitu mengejutkan kami semua,
termasuk saya sendiri. Dengan gerakan cepat dan tak
terpahami dari sudut mekanika badan manusia, ia berkelit
langsung menatap wajahku, face to face, eyes to eyes….Ia
mendesis menatap lurus ke mata saya, matanya penuh
kebencian… Lalu dia berkata: ”Jangan sebut nama itu! Itu
musuh kami!”. Dia bertanya : ”Apakah kamu takut, Bapa?”
Saya menjawab, ”Kamulah yang takut!” Kemudian, dengan
tatapannya yang tajam dia bertanya, ”Mengapa Bapa
mengusir saya? Saya juga anak Tuhan. Kalau tidak, tentu
saya tidak ada!” Segera kujawab, ”Kamu anak Tuhan yang
tidak taat, sombong. Mengapa kamu memasuki anak ini?”
Namun setan itu menjawab enteng saja, ”Tempat ini nyaman.
Saya mau pergi asalkan anak ini kubawa. Saya telah
menambah penyakit pada dirinya, meremas alat cernanya, dan
membunuhnya. Itu salah Bapa kalau Bapa memaksakan
kehendak”. Saya tidak mau diajak tawar menawar dengan
setan. Maka saya menjawab: ”Tidak ada kompromi. Kamu
tidak bisa membunuh anak ini dan tidak akan mampu
membawa nyawanya”. Setan inipun menantang saya dengan
mengatakan bahwa ia tidak takut pada imamNya, tidak takut
pada Sakramen dan tidak takut pada Yesus, karena dia juga
mengaku sebagai anakNya.
Dari situ terlihat manik matanya…. melihat ke arah mata
saya… Aneh… Saya agak tersinggung. Lha kok dia melirik ke
saya terus. Kepalan tangannya menggenggam erat. Saya
duduk di sofa yang sama, dekat punggungnya. Ia mengais
punggung bawah sambil keluar bunyi desis dari mulutnya,
sampai bajunya terlihat sobek sedikit. Desisnya berbunyi
”panasss” …..Lalu, saya nekad… Saya pegang tangannya. Ia
memberontak. Saya buka genggaman tangannya, dia melawan
dengan sebaliknya. Posisinya masih menelungkup. Saya ingat
postingan teks dari bruder Yohanes. Ciri kerasukan setan yang
membedakannya dari depresi antara lain adalah, jika disebut
nama Malaikat Agung Santo Mikael, atau nama Para Kudus,
juga Bunda Maria dan Tuhan Yesus Kristus, maka ia tentu
akan bereaksi dengan keras. Agak skeptis, namun tetap
dengan memegang erat jari-jari kaku yang mencekam dari
anak itu, saya katakan dengan suara wajar namun jelas
terdengar, ”Keluarlah dari badan anak ini! Dalam nama Yesus
Kristus Tuhanmu, serta Malaikat Agung Santo Mikael yang
kepadanya kamu membangkang, keluarlah”.
Namun reaksi anak itu begitu mengejutkan kami semua,
termasuk saya sendiri. Dengan gerakan cepat dan tak
terpahami dari sudut mekanika badan manusia, ia berkelit
langsung menatap wajahku, face to face, eyes to eyes….Ia
mendesis menatap lurus ke mata saya, matanya penuh
kebencian… Lalu dia berkata: ”Jangan sebut nama itu! Itu
musuh kami!”. Dia bertanya : ”Apakah kamu takut, Bapa?”
Saya menjawab, ”Kamulah yang takut!” Kemudian, dengan
tatapannya yang tajam dia bertanya, ”Mengapa Bapa
mengusir saya? Saya juga anak Tuhan. Kalau tidak, tentu
saya tidak ada!” Segera kujawab, ”Kamu anak Tuhan yang
tidak taat, sombong. Mengapa kamu memasuki anak ini?”
Namun setan itu menjawab enteng saja, ”Tempat ini nyaman.
Saya mau pergi asalkan anak ini kubawa. Saya telah
menambah penyakit pada dirinya, meremas alat cernanya, dan
membunuhnya. Itu salah Bapa kalau Bapa memaksakan
kehendak”. Saya tidak mau diajak tawar menawar dengan
setan. Maka saya menjawab: ”Tidak ada kompromi. Kamu
tidak bisa membunuh anak ini dan tidak akan mampu
membawa nyawanya”. Setan inipun menantang saya dengan
mengatakan bahwa ia tidak takut pada imamNya, tidak takut
pada Sakramen dan tidak takut pada Yesus, karena dia juga
mengaku sebagai anakNya.
Maka sejak pukul 23.45 hingga memasuki hari Minggu dini
hari, saya dan para mahasiswa Katolik di sana bergumul
untuk mengusir setan dari anak itu. Ia yang kesurupan itupun
berubah dari waktu ke waktu. Kadang-kadang suaranya
berubah menjadi lembut bak wanita cantik, namun kemudian
menjadi ganas. Kadang ia tertawa ngikik, kadang menantang,
kadang merunduk sok kalah. Kadangkala ia merajuk minta
dikasihani. Anak itu muntah-muntah berkali-kali. Kadang
setan melepaskan anak itu, lalu masuk lagi. Ketika anak itu
dilepas, si anak mengeluh, ”Romo, saya tak kuat, badan saya
dan usus serta lambung sakit semua. Saya mau mati saja,
dan takut”. Kami menguatkan agar ia berani melawan.
Ternyata si anak ini juga diberitahu oleh setan bahwa Romo
akan dibunuhnya jika anak itu tidak taat padanya. Maka si
anak merasa lemah, karena tak mau Romo diapa-apakan oleh
setan.
Namun, yang paling mengejutkan ialah, walaupun setan itu
dapat keluar meninggalkan anak itu tetapi selang beberapa
menit, namun kemudian setan kembali memasuki anak itu
dengan jumlah yang makin banyak. ”Kami ini Legion”, katanya
jelas sekali. Ia fasih berbahasa Inggris dan Jawa. Hal ini
terjadi ketika saya mengajak dia berdialog dalam bahasa
Inggris dan Jawa, sekedar mengetes apakah itu benar-benar
setan ataukah hanya ’ acting ’ anak itu. Saya tetap mengingat
teks postingan bruder di milist itu, dan makin yakin akan
kebenaran isinya. Saya katakan padanya, ”Kekuatanmu hanya
seperempat. Masih ada Malaikat Agung Santo Mikael, serta
Gabriel dan Rafael.” Mendengar ini, ia mundur dan
melepaskan anak itu. Tiba-tiba ia masuk lagi dan berkata,
”You are stupid, Father”, lalu menghantam saya. Suatu saat
ia terjatuh tepat di salib, dan kontan ia menjerit kepanasan.
Maka para mahasiswa menempelkan salib-salib mereka. Ia
berteriak kepanasan dan tersiksa. Begitulah, si setan itu pergi
lagi. Namun dengan cepat ia kembali lagi, dengan membawa
lebih banyak lagi setan bersamanya. Ia mau menguras
kekuatan saya. ”Sampai kapan Bapa bisa bertahan? Akan
kukuras tenagamu, Bapa!”. Saya menjawab sambil teringat
Mzm 121:2, ”Kekuatanku datang dari Allah, yang menjadikan
langit dan bumi”. Kami bertempur lagi. Si setan menjerit-jerit,
dan kemudian ia lari lagi… Lalu saya mendengar berita bahwa
ketiga mahasiswi lain sudah dilepaskan. Semua setan
kemudian berpindah merasuki mahasiswi yang satu ini.
hari, saya dan para mahasiswa Katolik di sana bergumul
untuk mengusir setan dari anak itu. Ia yang kesurupan itupun
berubah dari waktu ke waktu. Kadang-kadang suaranya
berubah menjadi lembut bak wanita cantik, namun kemudian
menjadi ganas. Kadang ia tertawa ngikik, kadang menantang,
kadang merunduk sok kalah. Kadangkala ia merajuk minta
dikasihani. Anak itu muntah-muntah berkali-kali. Kadang
setan melepaskan anak itu, lalu masuk lagi. Ketika anak itu
dilepas, si anak mengeluh, ”Romo, saya tak kuat, badan saya
dan usus serta lambung sakit semua. Saya mau mati saja,
dan takut”. Kami menguatkan agar ia berani melawan.
Ternyata si anak ini juga diberitahu oleh setan bahwa Romo
akan dibunuhnya jika anak itu tidak taat padanya. Maka si
anak merasa lemah, karena tak mau Romo diapa-apakan oleh
setan.
Namun, yang paling mengejutkan ialah, walaupun setan itu
dapat keluar meninggalkan anak itu tetapi selang beberapa
menit, namun kemudian setan kembali memasuki anak itu
dengan jumlah yang makin banyak. ”Kami ini Legion”, katanya
jelas sekali. Ia fasih berbahasa Inggris dan Jawa. Hal ini
terjadi ketika saya mengajak dia berdialog dalam bahasa
Inggris dan Jawa, sekedar mengetes apakah itu benar-benar
setan ataukah hanya ’ acting ’ anak itu. Saya tetap mengingat
teks postingan bruder di milist itu, dan makin yakin akan
kebenaran isinya. Saya katakan padanya, ”Kekuatanmu hanya
seperempat. Masih ada Malaikat Agung Santo Mikael, serta
Gabriel dan Rafael.” Mendengar ini, ia mundur dan
melepaskan anak itu. Tiba-tiba ia masuk lagi dan berkata,
”You are stupid, Father”, lalu menghantam saya. Suatu saat
ia terjatuh tepat di salib, dan kontan ia menjerit kepanasan.
Maka para mahasiswa menempelkan salib-salib mereka. Ia
berteriak kepanasan dan tersiksa. Begitulah, si setan itu pergi
lagi. Namun dengan cepat ia kembali lagi, dengan membawa
lebih banyak lagi setan bersamanya. Ia mau menguras
kekuatan saya. ”Sampai kapan Bapa bisa bertahan? Akan
kukuras tenagamu, Bapa!”. Saya menjawab sambil teringat
Mzm 121:2, ”Kekuatanku datang dari Allah, yang menjadikan
langit dan bumi”. Kami bertempur lagi. Si setan menjerit-jerit,
dan kemudian ia lari lagi… Lalu saya mendengar berita bahwa
ketiga mahasiswi lain sudah dilepaskan. Semua setan
kemudian berpindah merasuki mahasiswi yang satu ini.
Ketika masuk lagi yang terakhir kali ke dalam anak itu, dia
memeluk saya. Dengan seolah suara si mahasiswi, dia
mengendus tengkuk saya sambil berbisik, ”Aku Lucifer”. Saya
merinding. Terasa bulu kuduk saya berdiri dan ketakutan
mendera. ”Kamu takut, Romo?” katanya dengan lembut di
telinga saya. ”Aku akan mengincarmu terus sampai
kapanpun”. Tiba- tiba bangkitlah keberanian saya. Saya
berteriak kepada para mahasiswa: ”Kita mendapat
kehormatan, sampai Lucifer sendiri, si penghulu Setan,
datang!” Para mahasiswa terbawa emosi, mereka berdoa
makin keras. Ada pula yang berteriak, ”Hancurkan saja… Sikat
dia, Romo!”. Setan itu berkata, ”Paus Yohanes Paulus II
memarahiku”. Kujawab, ”Tak hanya Paus Yohanes Paulus II,
semua paus dan uskup, dan imam memarahimu, bahkan
Tuhanmu Yesus dan Malaikat Agung Mikael atasan
langsungmu! Taatlah kepadaNya!” ”Sayalah tuhan”, jawabnya
sinis. Saya membanting dia, dan kami berpegangan tangan
sambil saling melawan. Saya mulai berkeringat dan tenaga
saya terkuras, tetapi tetap saja saya melawannya. Saya
mengatakan, ”Kamulah yang ketakutan, melihat kami semua
dan Tuhanmu! Lepaskan badan anak ini, karena dia sudah
menerima Sakramen Ekaristi! ” Lucifer menjawab: ”Aih, itu
hanya roti biasa! Dan kalian imam-imam semua bodoh!”
Mendengar perkataannya, saya marah sekali. ”Kamu sudah
melawan kuasa imamat rajawi Tuhan Yesus Kristus! Kamu
mau melawan imamatNya?” Lalu ia menjawab dengan nada
meremehkan, ”Aku tak takut, Romo, pada imamatmu!”
memeluk saya. Dengan seolah suara si mahasiswi, dia
mengendus tengkuk saya sambil berbisik, ”Aku Lucifer”. Saya
merinding. Terasa bulu kuduk saya berdiri dan ketakutan
mendera. ”Kamu takut, Romo?” katanya dengan lembut di
telinga saya. ”Aku akan mengincarmu terus sampai
kapanpun”. Tiba- tiba bangkitlah keberanian saya. Saya
berteriak kepada para mahasiswa: ”Kita mendapat
kehormatan, sampai Lucifer sendiri, si penghulu Setan,
datang!” Para mahasiswa terbawa emosi, mereka berdoa
makin keras. Ada pula yang berteriak, ”Hancurkan saja… Sikat
dia, Romo!”. Setan itu berkata, ”Paus Yohanes Paulus II
memarahiku”. Kujawab, ”Tak hanya Paus Yohanes Paulus II,
semua paus dan uskup, dan imam memarahimu, bahkan
Tuhanmu Yesus dan Malaikat Agung Mikael atasan
langsungmu! Taatlah kepadaNya!” ”Sayalah tuhan”, jawabnya
sinis. Saya membanting dia, dan kami berpegangan tangan
sambil saling melawan. Saya mulai berkeringat dan tenaga
saya terkuras, tetapi tetap saja saya melawannya. Saya
mengatakan, ”Kamulah yang ketakutan, melihat kami semua
dan Tuhanmu! Lepaskan badan anak ini, karena dia sudah
menerima Sakramen Ekaristi! ” Lucifer menjawab: ”Aih, itu
hanya roti biasa! Dan kalian imam-imam semua bodoh!”
Mendengar perkataannya, saya marah sekali. ”Kamu sudah
melawan kuasa imamat rajawi Tuhan Yesus Kristus! Kamu
mau melawan imamatNya?” Lalu ia menjawab dengan nada
meremehkan, ”Aku tak takut, Romo, pada imamatmu!”
Ketika roh jahat yang mengaku Lucifer menantang imamat
saya, saya marah. Saya minta tas saya kepada para
mahasiswa. Saya melepaskan dia dulu untuk mengambil
peralatan aspergil dan stola serta minyak suci, sementara dia
ditahan oleh para mahasiswa yang ”menimbunnya”: dengan
doa-doa Salam Maria, Bapa Kami, Aku Percaya, serta
menindihnya dengan tubuh-tubuh kuat mereka. Ketika saya
datang lagi, saya percikkan dia dengan air suci. Ia menjerit
kepanasan, dan lari. Saat itu, saya berpikir, ini sudah dini hari,
semua akan kacau jika tak diakhiri. Oleh karena itu, saya
memerintahkan agar tubuh mahasiswi ini digotong dan
dievakuasi. Mereka menggotongnya masuk ke mobil saya, lalu
saya tancap gas dengan tujuan ke Lembah Karmel. Saya
menelpon Mbak Sari dan Suster Lisa P Karm. Mbak Sari
dengan sigap telah meminta Satpam membuka gerbang dan
pintu kapel.
Si mahasiswi dipegangi oleh Martha, Anton dan Asrul. Ia
berteriak, ”Cepat Romo, cepat… dia mengejar…” katanya
panik. Kami tetap berdoa Aku Percaya, Bapa Kami, dan Salam
Maria. Tiba-tiba suara mahasiswi berubah lagi, ”Haaa . Mau
dibawa ke mana anak ini, Bapa? Aku telah menambah lagi
penyakitnya. Aku meremas jerohannya… Anak ini hanya
sampai dini hari ini, Bapa. Bapalah yang harus tanggungjawab
atas kematiannya!” Kemudian, anak itu muntah-muntah di
mobil. Anton, Asrul dan Marta tetap berdoa dengan
memeganginya yang berontak ke sana kemari. Saya
mengatakan kepada Setan itu, ”Kamulah yang harus
bertanggungjawab. Jangan memutarbalik fakta, dasar setan!
Kamu telah melecehkan Sakramen Mahakudus. Kamu akan
kubawa ke hadapan Yesus, supaya tahu rasa kamu nanti.
Mau lepaskan dia sekarang, atau nanti kamu makin sengsara
di hadapan Raja Semesta Alam!” Lalu dia mulai merayu lagi,
”Sia-sia semua ini Bapa… Bapa besok banyak acara kan?
Ditunggu banyak umat.. sudahlah Bapa kembali saja
istirahat”. Saya jawab: “Acara satu-satunya imam Tuhan
ialah mengenyahkan kamu ke neraka!” Di situlah selama
perjalanan ia menawari saya apapun akan diberikan asalkan
saya tunduk pada keinginannya. Namun, saya tak mau
berkompromi. Saya katakan dengan tegas bahwa dia yang
harus tunduk pada Kristus! Mendengar ini ia berkata, ”Sayalah
tuhan, I am the Lord”. Saya tertawakan dia. Lalu ia
mengancam akan menggulingkan mobil. Saya menjawab, ”Ini
mobil para uskup Indonesia. Tak bakalan kau berhasil
menggulingkannya!” Saya mengingatkannya akan Santo
Yohanes Maria Vianney yang dia bakar tempat tidurnya gara-
gara tak mampu mengalahkan imam kudus itu. Di hatiku aku
berharap, Santo Yohanes Maria Vianney, kumohon agar
engkau mendoakan aku untuk mengalahkan Setan ini…
Lalu si Setan lalu merajuk lagi, ”Ah kenapa tenagaku
melemah, tak sekuat tadi”. Anak-anak mahasiswa ikut
menjawab, ”Rasain lu.” Dia mendamprat : ”Apa lo, bocah
kemarin sore!” Saya menjawabnya, ”Mereka bukan bocah
kemarin sore. Mereka anak-anak Tuhan semesta alam”.
Sepanjang jalan kami berdebat dengan bahasa Inggris, Jawa,
dan Indonesia. Mobil bagaikan terbang… dalam setengah jam
kami mendekati Lembah Karmel, dan semakin mendekati
Sakramen Mahakudus. Lagi- lagi, Setan itu mulai menendang
dan berontak. Kukatakan padanya, ”No place for evil, you
know !” Kutantang dia, ”Kenapa kau kuasai anak ini. Apa
salahnya?” Dia menjawab, “Bukan salah anak ini, tetapi
ayahnya”. Kujawab: “Ya, aku tahu, berarti ayahnya mengikat
perjanjian kegelapan denganmu. Nanti acara kita di rumah
Tuhan hanya satu, ialah memutus perjanjian leluhur anak ini
dengan Lucifer keparat ini!” Kemudian dia mengikik mirip
nenek Lampir dalam film Misteri Gunung Merapi, atau mirip
kuntilanak. Dia katakan: “Bukan, bukan begitu imam bodoh.
Kamu memang imam munafik dan pendosa!” Aku menjawab,
“Aku memang pendosa, namun tidak memberontak kepada
Tuhan seperti kamu!”. Dia menjawab lagi, “Ayahnyalah yang
mempersembahkan diri kepadaku, Bodooh!” Kupancing dia,
“Jadi, ayahnya mengikat perjanjian denganmu bukan?” Dia
jawab: “Bukan, bodoh! Kamu keliru, imam bodoh. Ayahnya
mempersembahkan diri kepada Kristus. Leluhurnyalah yang
mempersembahkan diri kepadaku”. Dia tertawa ngekek lagi.
Saya juga, mentertawakan kekeliruan saya. Jadinya kami
terkekeh bersama. Namun dengan tegas kukatakan: “Kamu
setan bodoh. Gampang dipancing ya hahaha… Maka acara
kita satu-satunya di depan Sakramen Mahakudus nanti
hanyalah memutuskan perjanjian itu dan kamu akan
mengalami sengsara kekal. Go to hell ! Kalau kamu ingin
bahagia, ajaklah anak buahmu dan dirimu sendiri bertobat,
kembali menyembah Allah yang benar! Jangan iri lagi karena
Putra-Allah menjadi Manusia”… Mendengar perkataan ini, dia
meradang, ”I hate you.. I hate all priests of Christ …!!!” Namun,
setelah mendengar betapa ia membenci para imam, saya
merasa mendapatkan kekuatan dan keharuan. Sebab itu
artinya kami berada di pihak yang benar, sehingga kerenanya,
Setan membenci kami. Saya membayangkan jajaran imam
Tuhan dan uskup yang berada di pihak saya. Sungguh itu
menguatkan batin saya.
saya, saya marah. Saya minta tas saya kepada para
mahasiswa. Saya melepaskan dia dulu untuk mengambil
peralatan aspergil dan stola serta minyak suci, sementara dia
ditahan oleh para mahasiswa yang ”menimbunnya”: dengan
doa-doa Salam Maria, Bapa Kami, Aku Percaya, serta
menindihnya dengan tubuh-tubuh kuat mereka. Ketika saya
datang lagi, saya percikkan dia dengan air suci. Ia menjerit
kepanasan, dan lari. Saat itu, saya berpikir, ini sudah dini hari,
semua akan kacau jika tak diakhiri. Oleh karena itu, saya
memerintahkan agar tubuh mahasiswi ini digotong dan
dievakuasi. Mereka menggotongnya masuk ke mobil saya, lalu
saya tancap gas dengan tujuan ke Lembah Karmel. Saya
menelpon Mbak Sari dan Suster Lisa P Karm. Mbak Sari
dengan sigap telah meminta Satpam membuka gerbang dan
pintu kapel.
Si mahasiswi dipegangi oleh Martha, Anton dan Asrul. Ia
berteriak, ”Cepat Romo, cepat… dia mengejar…” katanya
panik. Kami tetap berdoa Aku Percaya, Bapa Kami, dan Salam
Maria. Tiba-tiba suara mahasiswi berubah lagi, ”Haaa . Mau
dibawa ke mana anak ini, Bapa? Aku telah menambah lagi
penyakitnya. Aku meremas jerohannya… Anak ini hanya
sampai dini hari ini, Bapa. Bapalah yang harus tanggungjawab
atas kematiannya!” Kemudian, anak itu muntah-muntah di
mobil. Anton, Asrul dan Marta tetap berdoa dengan
memeganginya yang berontak ke sana kemari. Saya
mengatakan kepada Setan itu, ”Kamulah yang harus
bertanggungjawab. Jangan memutarbalik fakta, dasar setan!
Kamu telah melecehkan Sakramen Mahakudus. Kamu akan
kubawa ke hadapan Yesus, supaya tahu rasa kamu nanti.
Mau lepaskan dia sekarang, atau nanti kamu makin sengsara
di hadapan Raja Semesta Alam!” Lalu dia mulai merayu lagi,
”Sia-sia semua ini Bapa… Bapa besok banyak acara kan?
Ditunggu banyak umat.. sudahlah Bapa kembali saja
istirahat”. Saya jawab: “Acara satu-satunya imam Tuhan
ialah mengenyahkan kamu ke neraka!” Di situlah selama
perjalanan ia menawari saya apapun akan diberikan asalkan
saya tunduk pada keinginannya. Namun, saya tak mau
berkompromi. Saya katakan dengan tegas bahwa dia yang
harus tunduk pada Kristus! Mendengar ini ia berkata, ”Sayalah
tuhan, I am the Lord”. Saya tertawakan dia. Lalu ia
mengancam akan menggulingkan mobil. Saya menjawab, ”Ini
mobil para uskup Indonesia. Tak bakalan kau berhasil
menggulingkannya!” Saya mengingatkannya akan Santo
Yohanes Maria Vianney yang dia bakar tempat tidurnya gara-
gara tak mampu mengalahkan imam kudus itu. Di hatiku aku
berharap, Santo Yohanes Maria Vianney, kumohon agar
engkau mendoakan aku untuk mengalahkan Setan ini…
Lalu si Setan lalu merajuk lagi, ”Ah kenapa tenagaku
melemah, tak sekuat tadi”. Anak-anak mahasiswa ikut
menjawab, ”Rasain lu.” Dia mendamprat : ”Apa lo, bocah
kemarin sore!” Saya menjawabnya, ”Mereka bukan bocah
kemarin sore. Mereka anak-anak Tuhan semesta alam”.
Sepanjang jalan kami berdebat dengan bahasa Inggris, Jawa,
dan Indonesia. Mobil bagaikan terbang… dalam setengah jam
kami mendekati Lembah Karmel, dan semakin mendekati
Sakramen Mahakudus. Lagi- lagi, Setan itu mulai menendang
dan berontak. Kukatakan padanya, ”No place for evil, you
know !” Kutantang dia, ”Kenapa kau kuasai anak ini. Apa
salahnya?” Dia menjawab, “Bukan salah anak ini, tetapi
ayahnya”. Kujawab: “Ya, aku tahu, berarti ayahnya mengikat
perjanjian kegelapan denganmu. Nanti acara kita di rumah
Tuhan hanya satu, ialah memutus perjanjian leluhur anak ini
dengan Lucifer keparat ini!” Kemudian dia mengikik mirip
nenek Lampir dalam film Misteri Gunung Merapi, atau mirip
kuntilanak. Dia katakan: “Bukan, bukan begitu imam bodoh.
Kamu memang imam munafik dan pendosa!” Aku menjawab,
“Aku memang pendosa, namun tidak memberontak kepada
Tuhan seperti kamu!”. Dia menjawab lagi, “Ayahnyalah yang
mempersembahkan diri kepadaku, Bodooh!” Kupancing dia,
“Jadi, ayahnya mengikat perjanjian denganmu bukan?” Dia
jawab: “Bukan, bodoh! Kamu keliru, imam bodoh. Ayahnya
mempersembahkan diri kepada Kristus. Leluhurnyalah yang
mempersembahkan diri kepadaku”. Dia tertawa ngekek lagi.
Saya juga, mentertawakan kekeliruan saya. Jadinya kami
terkekeh bersama. Namun dengan tegas kukatakan: “Kamu
setan bodoh. Gampang dipancing ya hahaha… Maka acara
kita satu-satunya di depan Sakramen Mahakudus nanti
hanyalah memutuskan perjanjian itu dan kamu akan
mengalami sengsara kekal. Go to hell ! Kalau kamu ingin
bahagia, ajaklah anak buahmu dan dirimu sendiri bertobat,
kembali menyembah Allah yang benar! Jangan iri lagi karena
Putra-Allah menjadi Manusia”… Mendengar perkataan ini, dia
meradang, ”I hate you.. I hate all priests of Christ …!!!” Namun,
setelah mendengar betapa ia membenci para imam, saya
merasa mendapatkan kekuatan dan keharuan. Sebab itu
artinya kami berada di pihak yang benar, sehingga kerenanya,
Setan membenci kami. Saya membayangkan jajaran imam
Tuhan dan uskup yang berada di pihak saya. Sungguh itu
menguatkan batin saya.
Sementara itu pohon-pohon bambu Lembah Karmel sudah
mulai tampak… Si Setan berteriak lagi, ”Rumah jelek! Mosok
Tuhan mau tinggal di rumah jelek! Akulah tuhan.” Aku
menjawabnya, ”Itulah bedanya Kristus dengamu, Jelek! Dia
mau merendahkan diri, sedangkan kamu malah
menyombongkan diri! Rasakan akibatnya, kebencian abadi
bersamamu sajalah!’ Lalu kudengar ia merajuk lagi, ”Romo,
ini saya, saya sudah sadar… saya mau pulang ke Bekasi, ke
Jatibening, ini mau dibawa ke mana?” Tak terpengaruh atas
rajukannya, saya menjawab, ”Sadar gundulmu kuwi! Kami
mau membawamu ke hadapan Sakramen Mahakudus, Raja
Semesta Alam yang penuh kuasa. Hanya kepadaNya semua
lidah mengaku dan segala lutut bertelut, termasuk kamu!”
Pak Satpam membuka gerbang. Ia mengawal kami sampai ke
samping kapel kecil (yang sebenarnya besar sekali). Mobil
berhenti di jalan menanjak di samping kapel, di depan wisma
St. Antonius. Tubuh mahasiswi itu kami bopong keluar mobil.
Aneh sekali, badan yang kecil itu mempunyai bobotnya
berlipat-lipat. Dia tertawa ngikik. Mengerikan sekali. Melihat
pak Satpam yang tinggi besar, dia berkata seolah suara
mahasiswi itu : ”Wah, ini dia bapakku”. Tapi segera dia
mendesis-desis dan mengikik ketika kami bopong ke kapel, ”
Kalian tak kan berhasil… tak kan berhasil kikikiiiiikkk ….”
Tubuh kecil namun berbobot itu kami baringkan di depan
panti imam, di bawah altar, di lantai sebelum trap pertama.
Jika dilihat dari ruang umat, kepalanya kami letakkan di
sebelah kiri. Anton, Asrul dan Martha memegangi tangan dan
kakinya. Saya minta dipinjamkan korek api dari pak Satpam
untuk menyalakan lilin di kanan kiri tabernakel. Pak Satpam
menyalakan lampu di patung Bunda Maria. Suasana temaram,
dan dingin dini hari menggigit. Pukul 03.45. Saya berlutut di
hadapan tabernakel. Saya memohon kekuatan dari Tuhan
sendiri. Lalu saya turun, berlutut lagi di trap di sisi kiri si
mahasiswi. Saya mengajak anak-anak mahasiswa itu berdoa.
Saya berdoa: ”Tuhan Yesus yang hadir dalam Sakramen
Mahakudus, dengan rendah hati kami bawa ke hadapanmu
tubuh anakMu yang sedang dirasuki si Jahat. Kami tidak
sanggup mengusirnya dengan kekuatan kami sendiri.
Bertindaklah Tuhan atas dia, utuslah malaikat agungMu dan
balatentara sorgawi membebaskan dia. Amin”. Lalu saya
menghadapi tubuh mahasiswi itu dari trap, membelakangi
altar dan Sakramen Mahakudus. Dengan duduk karena lelah,
saya angkat tangan kanan saya di atasnya dan membuat
gerakan tanda salib berkat dengan berkata (saya heran
mengapa saya bisa mengatakan ini): ”Atas kuasa imamat
rajawi yang diberikan Tuhan Yesus Kristus kepada GerejaNya
dan kepadaku, aku melepaskan ikatan perjanjian kegelapan
antara kamu dengan leluhur anak ini. Dalam Nama Bapa, dan
Putra dan Roh Kudus, Amin.”
Tubuh anak yang berbaring itu tiba-tiba terjungkit, duduk,
melengos ke depan, menatap tajam ke Asrul yang memegangi
kakinya, lalu menoleh menatap tajam ke kiri menatap
langsung ke mata saya….. Sedetik kemudian terkulailah
tubuh si mahasiswi ini… Si jahat sudah keluar dari tubuhnya.
Si mahasiswi ini lalu merintih : ”Romo, itu Tuhan Yesus… ooo
Tuhan”, tangan kiri dan tangannya nya menggapai ke arah
altar. Tapi kami bawa keluar dengan dituntun. Tapi ia melihat
ke atas, ”Ooo… malaikat banyak sekali… oooh.. Romo, lihat?..
Ooo… Dia yang terjelek, hitam, telah diborgol… dimasukkan ke
dalam kereta… Ooo Malaikat Agung Santo Mikael… ooh..
Sampai di pintu utama, anak itu minta kembali ke dalam,
”Romo, teman-teman, saya harus kembali… Itu Tuhan…” Dia
kutuntun, dan dengan tangannya ia menggapai ke arah
Tabernakel…” Sampai di panti imam, di samping kanan altar
ia mencium patung kaki Kristus… Lalu menuju tabernakel, ia
memeluk tabernakel itu erat-erat. ”Tuhan Yesus terima kasih..
Syukur kepadamu.. ” lalu ia menangis di situ beberapa saat.
Setelah selesai, ia ke altar Bunda Maria, ia memeluk kaki
patung Bunda Maria dan menangis: “Bunda, terima kasih atas
doamu. Aku tak akan meninggalkan engkau dan putramu”…
mulai tampak… Si Setan berteriak lagi, ”Rumah jelek! Mosok
Tuhan mau tinggal di rumah jelek! Akulah tuhan.” Aku
menjawabnya, ”Itulah bedanya Kristus dengamu, Jelek! Dia
mau merendahkan diri, sedangkan kamu malah
menyombongkan diri! Rasakan akibatnya, kebencian abadi
bersamamu sajalah!’ Lalu kudengar ia merajuk lagi, ”Romo,
ini saya, saya sudah sadar… saya mau pulang ke Bekasi, ke
Jatibening, ini mau dibawa ke mana?” Tak terpengaruh atas
rajukannya, saya menjawab, ”Sadar gundulmu kuwi! Kami
mau membawamu ke hadapan Sakramen Mahakudus, Raja
Semesta Alam yang penuh kuasa. Hanya kepadaNya semua
lidah mengaku dan segala lutut bertelut, termasuk kamu!”
Pak Satpam membuka gerbang. Ia mengawal kami sampai ke
samping kapel kecil (yang sebenarnya besar sekali). Mobil
berhenti di jalan menanjak di samping kapel, di depan wisma
St. Antonius. Tubuh mahasiswi itu kami bopong keluar mobil.
Aneh sekali, badan yang kecil itu mempunyai bobotnya
berlipat-lipat. Dia tertawa ngikik. Mengerikan sekali. Melihat
pak Satpam yang tinggi besar, dia berkata seolah suara
mahasiswi itu : ”Wah, ini dia bapakku”. Tapi segera dia
mendesis-desis dan mengikik ketika kami bopong ke kapel, ”
Kalian tak kan berhasil… tak kan berhasil kikikiiiiikkk ….”
Tubuh kecil namun berbobot itu kami baringkan di depan
panti imam, di bawah altar, di lantai sebelum trap pertama.
Jika dilihat dari ruang umat, kepalanya kami letakkan di
sebelah kiri. Anton, Asrul dan Martha memegangi tangan dan
kakinya. Saya minta dipinjamkan korek api dari pak Satpam
untuk menyalakan lilin di kanan kiri tabernakel. Pak Satpam
menyalakan lampu di patung Bunda Maria. Suasana temaram,
dan dingin dini hari menggigit. Pukul 03.45. Saya berlutut di
hadapan tabernakel. Saya memohon kekuatan dari Tuhan
sendiri. Lalu saya turun, berlutut lagi di trap di sisi kiri si
mahasiswi. Saya mengajak anak-anak mahasiswa itu berdoa.
Saya berdoa: ”Tuhan Yesus yang hadir dalam Sakramen
Mahakudus, dengan rendah hati kami bawa ke hadapanmu
tubuh anakMu yang sedang dirasuki si Jahat. Kami tidak
sanggup mengusirnya dengan kekuatan kami sendiri.
Bertindaklah Tuhan atas dia, utuslah malaikat agungMu dan
balatentara sorgawi membebaskan dia. Amin”. Lalu saya
menghadapi tubuh mahasiswi itu dari trap, membelakangi
altar dan Sakramen Mahakudus. Dengan duduk karena lelah,
saya angkat tangan kanan saya di atasnya dan membuat
gerakan tanda salib berkat dengan berkata (saya heran
mengapa saya bisa mengatakan ini): ”Atas kuasa imamat
rajawi yang diberikan Tuhan Yesus Kristus kepada GerejaNya
dan kepadaku, aku melepaskan ikatan perjanjian kegelapan
antara kamu dengan leluhur anak ini. Dalam Nama Bapa, dan
Putra dan Roh Kudus, Amin.”
Tubuh anak yang berbaring itu tiba-tiba terjungkit, duduk,
melengos ke depan, menatap tajam ke Asrul yang memegangi
kakinya, lalu menoleh menatap tajam ke kiri menatap
langsung ke mata saya….. Sedetik kemudian terkulailah
tubuh si mahasiswi ini… Si jahat sudah keluar dari tubuhnya.
Si mahasiswi ini lalu merintih : ”Romo, itu Tuhan Yesus… ooo
Tuhan”, tangan kiri dan tangannya nya menggapai ke arah
altar. Tapi kami bawa keluar dengan dituntun. Tapi ia melihat
ke atas, ”Ooo… malaikat banyak sekali… oooh.. Romo, lihat?..
Ooo… Dia yang terjelek, hitam, telah diborgol… dimasukkan ke
dalam kereta… Ooo Malaikat Agung Santo Mikael… ooh..
Sampai di pintu utama, anak itu minta kembali ke dalam,
”Romo, teman-teman, saya harus kembali… Itu Tuhan…” Dia
kutuntun, dan dengan tangannya ia menggapai ke arah
Tabernakel…” Sampai di panti imam, di samping kanan altar
ia mencium patung kaki Kristus… Lalu menuju tabernakel, ia
memeluk tabernakel itu erat-erat. ”Tuhan Yesus terima kasih..
Syukur kepadamu.. ” lalu ia menangis di situ beberapa saat.
Setelah selesai, ia ke altar Bunda Maria, ia memeluk kaki
patung Bunda Maria dan menangis: “Bunda, terima kasih atas
doamu. Aku tak akan meninggalkan engkau dan putramu”…
Pak Satpam menyerahkan kunci wisma Antonius. Anak itu
mulai mengeluh lapar dan haus. Pak Satpam
menggendongnya. Kini ia tidak berat lagi. Dia membersihkan
diri di wisma, sementara teman-teman yang lain membelikan
makanan dan minuman di warung yang memang agak jauh,
karena dapur rumah retret belum buka. Hari masih pukul
04.30 pagi. Setelah makan minum, anak itu bercerita kepada
kami tentang kejadian semalam. Bahwa setelah makan
malam, ia masuk kamar di villa, dan melihat dua orang
manusia bertanduk. Ia takut, lalu menceritakan hal ini kepada
temannya. Kedua makhluk itu marah karena diceritakan
keberaadaannya kepada orang lain. Mereka mengancam akan
merasuki semua peserta Rekoleksi KMK KAJ itu. Si mahasiswi
menawar, karena ketakutan serta kasihan kalau semua
peserta kesurupan, maka spontan dia mempersilakan mahluk
itu merasuki dirinya saja. Ketika di depan altar itulah,
sebenarnya dia hampir saja mengikuti kehendak Lucifer untuk
mengikutinya. Pasalnya, Lucifer mengancam, jika ia tidak mau
ikut, maka imam itulah yang akan dibunuhnya. Karena
kasihan pada Romo, ia akan ikut saja. Tetapi melesat ada
malaikat yang membisikinya, ”Romo itu baik-baik saja, maka
lawanlah Lucifer, sementara kami akan menariknya keluar dari
tubuhmu.” Maka ia berani melawan, dan Lucifer ditarik oleh
balatentara malaikat, diborgol lalu dimasukkan ke dalam
kereta yang melesat membuangnya ke neraka. Setelah itu
tinggal Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang memeluk dan
mendukungnya. Begitulah kesaksiannya. Namun bagi saya, ini
juga adalah suatu kejadian iman melawan kuasa jahat di awal
masa Adven 2010, tepat di Minggu pertama.
Sampai Minggu sore tak habis-habisnya saya, Asrul, Anton,
Martha membicarakan hal ini. Juga teman-teman peserta
rekoleksi KMK-KAJ Dekenat Timur dan OMK Wilayah Mikael
Malaikat Agung dan St. Andreas. Semua membuahkan satu
kenyataan: bahwa iman lebih kuat daripada kebencian,
apalagi setan. Saya sendiri merasa dikuatkan dalam iman dan
imamat saya, dan disadarkan akan kelemahan diri serta
pertobatan. Saya makin yakin dan percaya bahwa alam maut
tak akan menguasai Gereja sampai kapanpun sesuai dengan
janji Tuhan. ”Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah
Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan
jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat
16:18). Sungguh, kuasa Allah mengatasi segalanya.
Berbahagialah semua orang yang percaya yang bersandar
kepada-Nya dan mengandalkan Dia.
mulai mengeluh lapar dan haus. Pak Satpam
menggendongnya. Kini ia tidak berat lagi. Dia membersihkan
diri di wisma, sementara teman-teman yang lain membelikan
makanan dan minuman di warung yang memang agak jauh,
karena dapur rumah retret belum buka. Hari masih pukul
04.30 pagi. Setelah makan minum, anak itu bercerita kepada
kami tentang kejadian semalam. Bahwa setelah makan
malam, ia masuk kamar di villa, dan melihat dua orang
manusia bertanduk. Ia takut, lalu menceritakan hal ini kepada
temannya. Kedua makhluk itu marah karena diceritakan
keberaadaannya kepada orang lain. Mereka mengancam akan
merasuki semua peserta Rekoleksi KMK KAJ itu. Si mahasiswi
menawar, karena ketakutan serta kasihan kalau semua
peserta kesurupan, maka spontan dia mempersilakan mahluk
itu merasuki dirinya saja. Ketika di depan altar itulah,
sebenarnya dia hampir saja mengikuti kehendak Lucifer untuk
mengikutinya. Pasalnya, Lucifer mengancam, jika ia tidak mau
ikut, maka imam itulah yang akan dibunuhnya. Karena
kasihan pada Romo, ia akan ikut saja. Tetapi melesat ada
malaikat yang membisikinya, ”Romo itu baik-baik saja, maka
lawanlah Lucifer, sementara kami akan menariknya keluar dari
tubuhmu.” Maka ia berani melawan, dan Lucifer ditarik oleh
balatentara malaikat, diborgol lalu dimasukkan ke dalam
kereta yang melesat membuangnya ke neraka. Setelah itu
tinggal Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang memeluk dan
mendukungnya. Begitulah kesaksiannya. Namun bagi saya, ini
juga adalah suatu kejadian iman melawan kuasa jahat di awal
masa Adven 2010, tepat di Minggu pertama.
Sampai Minggu sore tak habis-habisnya saya, Asrul, Anton,
Martha membicarakan hal ini. Juga teman-teman peserta
rekoleksi KMK-KAJ Dekenat Timur dan OMK Wilayah Mikael
Malaikat Agung dan St. Andreas. Semua membuahkan satu
kenyataan: bahwa iman lebih kuat daripada kebencian,
apalagi setan. Saya sendiri merasa dikuatkan dalam iman dan
imamat saya, dan disadarkan akan kelemahan diri serta
pertobatan. Saya makin yakin dan percaya bahwa alam maut
tak akan menguasai Gereja sampai kapanpun sesuai dengan
janji Tuhan. ”Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah
Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan
jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat
16:18). Sungguh, kuasa Allah mengatasi segalanya.
Berbahagialah semua orang yang percaya yang bersandar
kepada-Nya dan mengandalkan Dia.